Bangun dalam keterbatasan
44 Hari dan terus berjalan sampai detik ini. Peristiwa
yang menjadi mimpi buruk di pagi hari dibulan Juli 2018. Ketika di pagi hari Saya
merasaakn sakit di dada Saya, pusing, dan keseimbangan tubuh Saya hilang. Merasakan
kesemutan setengah badan Saya dan lambat laun Saya tidak memiliki tenaga
menggerakan tubuh saya. Menjadi pagi yang mengerikan seolah saya bisa mati
kapan saja karena serangan dadakan itu. Orang tua saya langsung membawa saya ke
rumah sakit, perjalanan yang biasanya cepat terasa sangat lama dan itu semakin
menyiksa saya. Saya harus dipegangi erat agar tidak jatuh karena untuk
menggerakan tangan saja rasanya seperti disayat-sayat pisau. Saya terus mengeluh sakit sepanjang perjlann dan
sudah tidak kuat, dalam hati saya ikhlas jika harus diambil asal tidak
merasakan kesakitan itu. Ketika sampai rumah sakit saya sudah setengah sadar. Saya
ditanya diberi suntikan pereda nyeri dan oksigen. Diagnosa awal saya stres
sehingga membuat tubuh saya kesemutan. Tapi saya berfikir bahwa ini bukan hanya
stres krena saya tidak merasa dalam keadaan stres waktu itu. Saya tidak bisa
berjalan, mau mandi harus digendong dan dimandikan. Kemana-mana harus minta
tolong orang lain. Itu membuat hidup saya penuh keterbatasan.
Sehari dirumah dibawakan tabib ke rumah katanya kena sawan,
okey langsung diilangin tapi masih tidak bisa digerakin. Hari kedua minta
tolong panggilin ustad biar bisa di ruqyah. Hasilnya gak ada gangguan dari
makhluk tak kasat mata dan kemungkinan saraf kejepit. Pasangan saya mendengar hal
itu dan menyarankan untuk dibawa ke om
dia yang biasa menangani saraf terjepit. Awal datang dilihat dan dicek masalahnya
aku disuruh buka baju untuk di cek. Dari tangan sampai kaki. Ternyata banyak
saraf dan tulang yang geser. Kalau tidak salah ada 4 titik. Tangan saya di
puter untuk memposisikan kembali tulang yang salah, dan kaki sya diputer dan
ditarik. Sakit gak? Jangn tanya. Tapi alhamdulilah
dateng untuk kedua kali dengan dipijat di area yang mengalami kaku dan sakit setelah
itu saya bisa duduk dan jalan pelan dipegangi. How lucky i am, dalam waktu
seminggu udah bisa gitu bukannya anugerah bgt ya. Terapi ketiga saya bisa jalan
sendiri tapi diterapi selanjutnya ketika sya merasa sakit untuk menggerakan
tangan dan belum bisa menggerakn tangan keatas. Terapis menganjurkan untuk di MRI dan dibawa
ke rumah sakit karena kalau hnya sakit saraf terjepit tiga kali terapi sudah
normal. Tapi ini masih belum. So besuknya langsung membuat rujukan ke puskesmas
dan ke rumah sakit tujuan. Selama 2 minggu drama salah rujukan dan pindah ke
bagian ortopedi tes ct scan, lab, dan MRI hasil akhir adanya masalah pada
tulang belakang dan RS tidak mampu menangani karena tidak ada ahlinya sehingga
dirujuk ke rumah sakit besar lain yang mampu. Setelah di rumah sakit langsung
diperiksa dan kemungkinan ada penjepitan atau pendarahan dalam tulang belakang.
Dokter berkata semoga bukan tumor yang menjepit dan kemungkinan jika dioperasi
akan mengalami kelumpuhan permanen atau bisa meninggal karena operasi yang
dilakukan dengan menjebol saraf dan tidak tahu apakah saraf bisa kembali seperti
semula. Saya dirujuk untuk konsultasi ke dokter saraf. Setelah konsultasi menurut
dokter kemungkinan adalah myelitis. Tapi itu masih kecurigaan sebelum melakukan
tas lab lagi. Saran dokter saraf saya melakukan tes lab. Oke saya diambil darahnya
untuk ke sekian kalinya. Capek, sakit, dan pesimis selalu ada karena proses
panjng itu. Hasil lab keluar seminggu selanjutnya dari banyak tes ada hasil yang
membuat saya tercengang jika positif hasilnya 6 tapi hasil saya hingga 34.00 wow
mengerikan. Tapi sampai saat ini saya
belum bertemu lagi dengan dokter sehingga saya harus menahan diri untuk
menanyakan hasil lab tersebut dan seberapa bahayanya. Yang pasti dalam urain
itu saya sudah melewati proses yang panjang dan membuat saya belajar sabar,
ikhlas dan tetap berusaha melawan sakit. Semangat untuk yang sedang sakit, terus berfikiran positif, jangan menyerah dan
percayalah Allah adalah sebaik-baiknya tempat memasrahkan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar