Laman

Jumat, 14 September 2018

BANGUN DALAM KETERBATASAN


Bangun dalam keterbatasan

44 Hari dan terus berjalan sampai detik ini. Peristiwa yang menjadi mimpi buruk di pagi hari dibulan Juli 2018. Ketika di pagi hari Saya merasaakn sakit di dada Saya, pusing, dan keseimbangan tubuh Saya hilang. Merasakan kesemutan setengah badan Saya dan lambat laun Saya tidak memiliki tenaga menggerakan tubuh saya. Menjadi pagi yang mengerikan seolah saya bisa mati kapan saja karena serangan dadakan itu. Orang tua saya langsung membawa saya ke rumah sakit, perjalanan yang biasanya cepat terasa sangat lama dan itu semakin menyiksa saya. Saya harus dipegangi erat agar tidak jatuh karena untuk menggerakan tangan saja rasanya seperti disayat-sayat pisau.  Saya terus mengeluh sakit sepanjang perjlann dan sudah tidak kuat, dalam hati saya ikhlas jika harus diambil asal tidak merasakan kesakitan itu. Ketika sampai rumah sakit saya sudah setengah sadar. Saya ditanya diberi suntikan pereda nyeri dan oksigen. Diagnosa awal saya stres sehingga membuat tubuh saya kesemutan. Tapi saya berfikir bahwa ini bukan hanya stres krena saya tidak merasa dalam keadaan stres waktu itu. Saya tidak bisa berjalan, mau mandi harus digendong dan dimandikan. Kemana-mana harus minta tolong orang lain. Itu membuat hidup saya penuh keterbatasan.
Sehari dirumah dibawakan tabib ke rumah katanya kena sawan, okey langsung diilangin tapi masih tidak bisa digerakin. Hari kedua minta tolong panggilin ustad biar bisa di ruqyah. Hasilnya gak ada gangguan dari makhluk tak kasat mata dan kemungkinan saraf kejepit. Pasangan saya mendengar hal itu dan  menyarankan untuk dibawa ke om dia yang biasa menangani saraf terjepit. Awal datang dilihat dan dicek masalahnya aku disuruh buka baju untuk di cek. Dari tangan sampai kaki. Ternyata banyak saraf dan tulang yang geser. Kalau tidak salah ada 4 titik. Tangan saya di puter untuk memposisikan kembali tulang yang salah, dan kaki sya diputer dan ditarik.  Sakit gak? Jangn tanya. Tapi alhamdulilah dateng untuk kedua kali dengan dipijat di area yang mengalami kaku dan sakit setelah itu saya bisa duduk dan jalan pelan dipegangi. How lucky i am, dalam waktu seminggu udah bisa gitu bukannya anugerah bgt ya. Terapi ketiga saya bisa jalan sendiri tapi diterapi selanjutnya ketika sya merasa sakit untuk menggerakan tangan dan belum bisa menggerakn tangan keatas.  Terapis menganjurkan untuk di MRI dan dibawa ke rumah sakit karena kalau hnya sakit saraf terjepit tiga kali terapi sudah normal. Tapi ini masih belum. So besuknya langsung membuat rujukan ke puskesmas dan ke rumah sakit tujuan. Selama 2 minggu drama salah rujukan dan pindah ke bagian ortopedi tes ct scan, lab, dan MRI hasil akhir adanya masalah pada tulang belakang dan RS tidak mampu menangani karena tidak ada ahlinya sehingga dirujuk ke rumah sakit besar lain yang mampu. Setelah di rumah sakit langsung diperiksa dan kemungkinan ada penjepitan atau pendarahan dalam tulang belakang. Dokter berkata semoga bukan tumor yang menjepit dan kemungkinan jika dioperasi akan mengalami kelumpuhan permanen atau bisa meninggal karena operasi yang dilakukan dengan menjebol saraf dan tidak tahu apakah saraf bisa kembali seperti semula. Saya dirujuk untuk konsultasi ke dokter saraf. Setelah konsultasi menurut dokter kemungkinan adalah myelitis. Tapi itu masih kecurigaan sebelum melakukan tas lab lagi. Saran dokter saraf saya melakukan tes lab. Oke saya diambil darahnya untuk ke sekian kalinya. Capek, sakit, dan pesimis selalu ada karena proses panjng itu. Hasil lab keluar seminggu selanjutnya dari banyak tes ada hasil yang membuat saya tercengang jika positif hasilnya 6 tapi hasil saya hingga 34.00   wow mengerikan.  Tapi sampai saat ini saya belum bertemu lagi dengan dokter sehingga saya harus menahan diri untuk menanyakan hasil lab tersebut dan seberapa bahayanya. Yang pasti dalam urain itu saya sudah melewati proses yang panjang dan membuat saya belajar sabar, ikhlas dan tetap berusaha melawan sakit. Semangat untuk yang sedang sakit, terus berfikiran positif, jangan menyerah dan percayalah Allah adalah sebaik-baiknya tempat memasrahkan diri.