Laman

Jumat, 18 Maret 2016

Nilai Dan Etika Dalam Pekerjaan Sosial



Pengertian Nilai dan Etika
 
Nilai (value) berasal dari bahasa latin valere yang artinya “menjadi kuat” atau “menjadi terhormat”. Nilai itu dikaitkan dengan sesuatu yang baik atau buruk. Menurut Soetarso Nilai adalah kepercayaan, pilihan, atau asumsi tentang yang baik untuk manusia. Namun apabila dikaitkan dengan ekerjaan sosial nilai yang dimaksud adalah seperangkat prinsip etik/moral yang fundamental dimana pekerja sosial harus berkomitmen.
Jika nilai berbicara mengenai baik dan buruk, maka etika berbicara mengenai benar dan salah. Etika ini lebih bersifat eksplisit dan konkrit. Karena itu banyak ahli menyatakan bahwa etika adalah nilai yang sudah terjawantahkan (DuBois & Miley, 2005: 110). Nilai yang sudah terjawantahkan membentuk sistem nilai yang mengatur bagaimana manuia hidup untuk melakukan hal baik atau melarang melakukan hal yang buruk. Etika ini bisa berupa pedoman dan larangan. Dalam konteks profesi ada sebuah aturan dan norma yang mengikat biasa disebut kode etik. 

Pentingnya Peran Nilai Dan Etika Dalam Pekerjaan Sosial
Nilai dan etika menjadi fondasi dasar yang harus dimiliki oleh pekerja sosial. Nilai yang menjadi pedoman baik dan buruk dijawantahkan kedalam perilaku etik sehingga suatu perilaku dalam profesi dianggap benar atau salah. 

Bentuk Nilai Dan Etik Dalam Pekerjaan Sosial

  1. Pelayanan : Mengutamakan membantu masyarakat yang membutuhkan dan memusatkan pada permasalahan sosial 
  2. Keadilan sosial : Menentang ketidakadilan sosial 
  3. Harkat dan martabat seseorang : Pekerja sosial harus menghormati harkat dan martabat seseorang
  4. Mementingkan hubungan kemanusiaan : Menjunjung tinggi hubungan kemanusiaan dan kemasyarakatan yang dilakukan untuk mendukung perubahan sosial agar berjalan secara positif
  5. Integritas : Pekerja sosial harus memiliki perilaku yang dapat dipercaya
  6. Kompetensi :  Pekerja sosial harus mempraktikan keahlian profesionalismenya dalam proses pertolongan yang dilakukan

Dua Teori Etika
1.       Etika Deontologi
Dalam teori ini menekankan bahwa kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. Suatu tindakan yang baik bukan berdasarkan tujuan maupun dampak dari perbuatn itu tetapi berdasarkan tindakan sendiri. Tindakan itu dianggap bermoral apabila sudah sesuai dengan kewajiban
2.       Etika Teleologi
Etika teleologi justru mengukur baik buruknya berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu. 


Sumber : Miftachul Huda. 2009. Pekerjaan Sosial & Kesejahteraan Sosial : sebuah pengantar.Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar